Ummu Ina

22 01 2008
Beliau bukan seseorang yang gw kenal sebelumnya. Sama sekali bukan. Hanya beberapa hari terakhir ini aja namanya begitu sering seliweran di HP… Sedikit-sedikit infonya bisa didapet di koran ato internet. Sedikit-sedikit benar. Tidak banyak.
Tapi apa yang mendorong orang-orang tadi untuk menghadiri pemakamannya siang itu? Satu Izrail, Munkar dan Nakir, puluhan bis, ratusan mobil, entah berapa motor dan entah berapa pula manusianya… magnet apa yang begitu kuat menarik? Daya apa?
Beliau emang bukan orang yang gw kenal sebelumnya. Sama sekali bukan. Tapi haru dan rasa kehilangan yang demikian besar dari semua orang jelas membawa gw pada satu pemahaman yang pasti: beliau pasti bukan orang sembarangan.
Tapi bukan itu yang paling mengagumkan siang itu. Takzim gw kepada beliau justru makin membuncah ketika menyaksikan bagaimana orang-orang yang ditinggalkannya. Tidak ada tangis di rumah duka. Paling tidak, itu yang gw saksikan. Ust. Hidayat Nurwahid, suaminya, imam dalam keluarganya, terlihat begitu tegar. Demikian tegar sehingga malah tampak bahagia. Ini dari kacamata gw. Subhanallah. Iman macam apa yang dipegangnya? Jelas-jelas ketika gw menempelkan pipi ke pipi kiri-kanannya gw melihat wajah yang putih bersih. Sangat bersih. Dan entah itu tadi halusinasi atau bukan, tapi wajahnya tidak sekedar putih bersih, ia bersinar. Teduh dan memukau. Senyumnya sungguh tulus. Menyalami semua tamu yang gak berhenti-berhenti mengalir berbelasungkawa. Maka ketika ada yang menyatakan bahwa selalu ada sosok wanita hebat di setiap pemimpin besar, gw praktis berpikir: mulia benar Almarhumah ini… subhanallah…
Kebahagiaan gwlah ketika ditakdirkan bisa mengenal dan memahami beliau sejauh ini.
Kastian. Dikenal juga dengan panggilan Ummu Ina, Nama yang sangat sederhana. Sekarang beliau tidak lagi bersama kita. Namun justru hidup didekat-Nya.
Cukuplah Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin yang menjadi saksi atas beliau.