si Mbah dan (bukan) Umar

11 09 2008

Pukul setengah dua belas malam dan aku menikung ke kiri pada belokan setelah Gading Mas. Sekilas, 5 meter dari sana terlihat sosok akhwat berjilbab putih sedang duduk. Dan dalam tiga detik berikutnya paling tidak ada 5 hal yang aku lakukan. ini semacam komputer yang biasa melakukan multitasking: kaget, berprasangka buruk, sedikit mengerem motor, menengok, dan kagum.

Kaget karena sekelebatan sosok akhwat itu tadi. Lalu aku langsung berprasangka buruk, sesuatu yang akhirnya terbukti tidak pada tempatnya. Aku berpikir bahwa akhwat ini telah bersalah dengan tetap berkeluyuran malam hari. Lalu motorik tanganku tergerak untuk mengerem sedikit dan kemudian aku menengok. Ternyata itu tadi si Mbah yang biasa dagang di samping Gading Mas. Subhanallah, rupanya beliau sedang sholat-bermunajat kepada Allah dengan mengenakan mukena putihnya di sepetak tempat-maksudku benar-benar sepetak-yang pada kondisi normal lazim disebut teras.

Setengah dua belas malam, saat orang bermaksiat atau minimal terlelap, si Mbah, entah siapa dia, memilih untuk menempelkan kening pada alas sholatnya yang sederhana dan mengangkat kedua tangannya menghadap ke langit mendung Jogja, langit dunia. We all live under the same sky, we all will live we all will die, tapi hanya sedikit dari kita yang berserah dan taat pada Sang Pencipta langit itu. Dan malam itu, si Mbah termasuk yang sedikit tadi.

Aku pulang dengan letupan-letupan kekaguman yang segera kubagikan kepada ikhwah di Mtop. Wallahu a’lam, apakah ada Umar yang berpatroli malam tadi, yang menengok keadaan si Mbah dan memenuhi kebutuhannya dengan tangannya sendiri. Malam itu aku bukan Umar.


Actions

Information

Leave a comment