Fotografi

9 01 2008

Fotografi berarti mengurung sejarah manusia dalam selembar foto. Selembar foto akan menceritakan satu fragmen dalam hidup manusia dalam satu waktu dari satu sudut dan dari satu jarak. Secara lebih tepatnya, selembar foto akan menceritakan hanya satu fragmen dalam hidup manusia (satu slice kejadian) dalam hanya satu waktu (cobalah untuk membagi satu detik hingga menjadi bagian yang tidak terbagi lagi, itulah yang gw maksud dengan waktu) dari hanya satu sudut (bayangkan bentuk 3D bola disekeliling manusia dan tunjuk ke satu titik secara sembarang. That’s it) dan dari hanya satu jarak (dari skala 1:1 sampai 1:entahlah, pilih saja). Clear enough?

Manusia senang melihat foto dari masa lalunya (tentu saja dari masa lalu. Gw gak pernah tau ada foto dari masa depan selain di Doraemon, Back to the Future, ato Early Edition). Ini menarik. Pertama, karena mereka sendirilah yang mengalami apa yang ia lihat di lembar foto itu. Kedua, karena sensasi yang mereka rasakan adalah apa yang mereka rasakan saat ini tentang saat itu. Mereka tidak benar-benar merasakan apa yang mereka rasakan saat itu. Ketiga, karena ternyata upaya manusia seperti tidak ada habisnya untuk membuat perangkap fragmen hidup yang lebih mutakhir dari waktu ke waktu.

Pada abad 19 hanya ada sedikit orang yang mengklaim dirinya sebagai fotografer. Fotografi adalah kebutuhan yang gak masuk dalam urutan primer-sekuder-tersier. Itupun kalo fotografi dianggap sebagai satu kebutuhan. Tapi lihatlah, sekarang semua orang adalah fotografer. Dengan pocket camera mereka, SLR manual, SLR digital, Polaroid, kamera HP, PDA, dan macam lainnya.

Gw pribadi memiliki bergiga-giga byte foto digital dan mungkin ratusan foto fisik sampai sekarang. Dan jika itu adalah hutan niscaya udah cukup untuk membuat orang tersesat didalamnya. Ya, gw berhasil membuat beberapa fragmen hidup gw terperangkap dalam lembaran foto. Gw Cuma gak bisa bayangin berapa kapasitas yang dibutuhkan untuk menjebak sejarah hidup gw seutuhnya dalam satu wadah. Perangkap sebesar apa? Itu baru gw. Gimana dengan ide menjebak sejarah hidup semua manusia secara utuh? Wow. Mungkin pekerjaan itu bakal setua dan seambisius peradaban itu sendiri.

Ok. Akan lebih amazing lagi kalo kita mempertanyakannya seperti ini: Kapasitas sebesar apa yang dibutuhkan untuk menjebak sejarah hidup semua manusia secara utuh dalam setiap fragmennya, dalam setiap waktu, dari setiap sudut, dan dari setiap jarak?

Well, thanks to Raqib and Atid yang telah, sedang, dan akan terus mencatat semuanya dengan sangat baik. Tentu akan menjadi koleksi yang luar biasa.

Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar!