gone finally

27 01 2008

images.jpg
setelah berhari-hari (apa berminggu-minggu ya?) ngeliatin headline koran di burjo..

akhirnya kemaren pergi juga.. gak seneng tapi juga gak sedih sama sekali.

emang gak ada implikasi langsung atas ada atau ketiadaan beliau atas gw, kecuali gw bisa apal pancasila dan ikut lomba P4 pas SD (walopun kalah2 juga).

yang jelas MPKD memiliki satu manfaat langsung (lha kok jadi MPKD?): gw bisa masang bendera setengah tiang dengan simpul yang benar bwt melepas beliau.. he

Allah pasti memberikan yang terbaik untuk semua





Ummu Ina

22 01 2008
Beliau bukan seseorang yang gw kenal sebelumnya. Sama sekali bukan. Hanya beberapa hari terakhir ini aja namanya begitu sering seliweran di HP… Sedikit-sedikit infonya bisa didapet di koran ato internet. Sedikit-sedikit benar. Tidak banyak.
Tapi apa yang mendorong orang-orang tadi untuk menghadiri pemakamannya siang itu? Satu Izrail, Munkar dan Nakir, puluhan bis, ratusan mobil, entah berapa motor dan entah berapa pula manusianya… magnet apa yang begitu kuat menarik? Daya apa?
Beliau emang bukan orang yang gw kenal sebelumnya. Sama sekali bukan. Tapi haru dan rasa kehilangan yang demikian besar dari semua orang jelas membawa gw pada satu pemahaman yang pasti: beliau pasti bukan orang sembarangan.
Tapi bukan itu yang paling mengagumkan siang itu. Takzim gw kepada beliau justru makin membuncah ketika menyaksikan bagaimana orang-orang yang ditinggalkannya. Tidak ada tangis di rumah duka. Paling tidak, itu yang gw saksikan. Ust. Hidayat Nurwahid, suaminya, imam dalam keluarganya, terlihat begitu tegar. Demikian tegar sehingga malah tampak bahagia. Ini dari kacamata gw. Subhanallah. Iman macam apa yang dipegangnya? Jelas-jelas ketika gw menempelkan pipi ke pipi kiri-kanannya gw melihat wajah yang putih bersih. Sangat bersih. Dan entah itu tadi halusinasi atau bukan, tapi wajahnya tidak sekedar putih bersih, ia bersinar. Teduh dan memukau. Senyumnya sungguh tulus. Menyalami semua tamu yang gak berhenti-berhenti mengalir berbelasungkawa. Maka ketika ada yang menyatakan bahwa selalu ada sosok wanita hebat di setiap pemimpin besar, gw praktis berpikir: mulia benar Almarhumah ini… subhanallah…
Kebahagiaan gwlah ketika ditakdirkan bisa mengenal dan memahami beliau sejauh ini.
Kastian. Dikenal juga dengan panggilan Ummu Ina, Nama yang sangat sederhana. Sekarang beliau tidak lagi bersama kita. Namun justru hidup didekat-Nya.
Cukuplah Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin yang menjadi saksi atas beliau.




Didi

6 01 2008
sil.jpg

ada beberapa nama yang selalu melekat kuat dalam benak manusia. begitu kuatnya hingga ketika manusia mau berkehendak melepaskannya akan menjadi sangat kesulitan. karena mereka seperti telah mengambil alih bayangan tubuh manusia yang memantul. manusia tidak bisa lari dari bayangannya sendiri, bisakah mereka? nama-nama itu adalah nama-nama yang mereka cinta-i atau benci-i (i got a problem here. any idea gimana bentuk bakunya? would u tell me?). nama-nama orang yang mereka cintai atau bencii menjadi lekat karena peran dalam hidupnya sebelum saat ini. beberapa dari mereka sering tampil dalam beberapa episode pembukaan, tengah, atau akhir. beberapa yang lain hanya dalam satu-dua episode yang penting saja. tapi mereka tetap mengambil peran, karena menurut kesadaran mereka, mustahil menjadikan kita seperti sekarang jika saat itu mereka bolos tampil atau mundur.

beberapa batu harus berdiri tegar agar air bisa belok ke arah yang seharusnya. beberapa yang lain harus berperan hancur atas arus untuk air yang keras maunya. begitu seterusnya.

ada beberapa Didi dalam hidup gw. Didi yang pertama hadir sebagai sebotol shampo. mereka menulisnya Dee-dee. Didi ini senantiasa membersihkan rambut gw yang hitam dan menjadikannya tidak kaku-kaku amat. Didi yang lain tampil sebagai adik kelas yang pendiam dan banyak jadi bahan ledekan seisi kelas. beliau ada disana, dalam beberapa fragmen hidup gw, banyak mengajarkan tentang sabar dan tersenyum. lembut dalam hampir segala situasi. subhanallah.

And now i’m writing about this man, Didi. He simply was not just another Didi. He was different. he surely was somebody. Didi yang ini praktis hanya muncul seperti sebagai figuran dalam skenario hidup gw (tapi dalam skenario hidupnya, tentu ia adalah bintang dan gwlah figuran) adalah karena Didi yang ini memang dimaksudkan seperti itu. Didi ini berperan sebagai seorang guru. figuran yang amat penting. Didi ini tampil dengan script yang minimalis. bahasanya adalah matanya. adalah gesturnya. juga langkahnya. dialognya sedikit tapi mengarahkan dan kadang menentukan tindakan si Aktor. Didi ini memainkan perannya dengan sangat baik dan penuh penjiwaan.

perlu gw tekankan juga bahwa ada hal-hal yang yang harus ada dalam setiap skenario. dan salah satu yang terpenting adalah sebuah akhir. ketika kita memilih hidup maka kita juga memilih mati. aktor yang dihidupkan, sebaik apapun dia berperan, kelak harus mati juga. saat itu perannya adalah mati. karena dia harus menjalankan lagi peran yang lebih besar dalam skenario yang lebih besar. semacam skenario yang abadi. bingung membayangkan keabadian? tampaknya peran kita sekarang memang untuk bingung. yah, semoga kelak kita akan paham.

Untuk Didi yang terakhir gw ceritakan, Didi yang akan memainkan peran yang baru. gw hanya mendoakan semoga kali ini tidak kalah suksesnya. dan gw cuma mau bilang terimakasih karena bahkan di ujung peran figurannya masih banyak mengajarkan gw tentang hal-hal yang luar biasa. kemanapun kau menatap sekarang, kau sudah demikian dekat dengan The ScriptMaster. don’t you miss Him? berbahagialah.

gw akan disini dulu untuk menjalankan bagian gw sebaik-baiknya.

wish me luck, no, i mean barokah.

>

in memoriam: Pak Didi guru Fisika SMU 14 Jakarta dengan semua izzahnya.