ada beberapa nama yang selalu melekat kuat dalam benak manusia. begitu kuatnya hingga ketika manusia mau berkehendak melepaskannya akan menjadi sangat kesulitan. karena mereka seperti telah mengambil alih bayangan tubuh manusia yang memantul. manusia tidak bisa lari dari bayangannya sendiri, bisakah mereka? nama-nama itu adalah nama-nama yang mereka cinta-i atau benci-i (i got a problem here. any idea gimana bentuk bakunya? would u tell me?). nama-nama orang yang mereka cintai atau bencii menjadi lekat karena peran dalam hidupnya sebelum saat ini. beberapa dari mereka sering tampil dalam beberapa episode pembukaan, tengah, atau akhir. beberapa yang lain hanya dalam satu-dua episode yang penting saja. tapi mereka tetap mengambil peran, karena menurut kesadaran mereka, mustahil menjadikan kita seperti sekarang jika saat itu mereka bolos tampil atau mundur.
beberapa batu harus berdiri tegar agar air bisa belok ke arah yang seharusnya. beberapa yang lain harus berperan hancur atas arus untuk air yang keras maunya. begitu seterusnya.
ada beberapa Didi dalam hidup gw. Didi yang pertama hadir sebagai sebotol shampo. mereka menulisnya Dee-dee. Didi ini senantiasa membersihkan rambut gw yang hitam dan menjadikannya tidak kaku-kaku amat. Didi yang lain tampil sebagai adik kelas yang pendiam dan banyak jadi bahan ledekan seisi kelas. beliau ada disana, dalam beberapa fragmen hidup gw, banyak mengajarkan tentang sabar dan tersenyum. lembut dalam hampir segala situasi. subhanallah.
And now i’m writing about this man, Didi. He simply was not just another Didi. He was different. he surely was somebody. Didi yang ini praktis hanya muncul seperti sebagai figuran dalam skenario hidup gw (tapi dalam skenario hidupnya, tentu ia adalah bintang dan gwlah figuran) adalah karena Didi yang ini memang dimaksudkan seperti itu. Didi ini berperan sebagai seorang guru. figuran yang amat penting. Didi ini tampil dengan script yang minimalis. bahasanya adalah matanya. adalah gesturnya. juga langkahnya. dialognya sedikit tapi mengarahkan dan kadang menentukan tindakan si Aktor. Didi ini memainkan perannya dengan sangat baik dan penuh penjiwaan.
perlu gw tekankan juga bahwa ada hal-hal yang yang harus ada dalam setiap skenario. dan salah satu yang terpenting adalah sebuah akhir. ketika kita memilih hidup maka kita juga memilih mati. aktor yang dihidupkan, sebaik apapun dia berperan, kelak harus mati juga. saat itu perannya adalah mati. karena dia harus menjalankan lagi peran yang lebih besar dalam skenario yang lebih besar. semacam skenario yang abadi. bingung membayangkan keabadian? tampaknya peran kita sekarang memang untuk bingung. yah, semoga kelak kita akan paham.
Untuk Didi yang terakhir gw ceritakan, Didi yang akan memainkan peran yang baru. gw hanya mendoakan semoga kali ini tidak kalah suksesnya. dan gw cuma mau bilang terimakasih karena bahkan di ujung peran figurannya masih banyak mengajarkan gw tentang hal-hal yang luar biasa. kemanapun kau menatap sekarang, kau sudah demikian dekat dengan The ScriptMaster. don’t you miss Him? berbahagialah.
gw akan disini dulu untuk menjalankan bagian gw sebaik-baiknya.
wish me luck, no, i mean barokah.
>
in memoriam: Pak Didi guru Fisika SMU 14 Jakarta dengan semua izzahnya.
Recent Comments