Caraka

24 01 2008
images.jpeg
Kami pandu sejati
Berjanji pada diri
Akan senantiasa mengiringi barisan dakwah ini
Dengan bersiapsiaga
Banyak cerita tentang utusan dan pengutusannya.. dalam sejarah sahabat, Hudzaifah ibnul Yaman dikenal sebagai utusan yang ta’at dan tidak oportunis. Monumen kepiawaiannya adalah ketika Hudzaifah diutus dengan satu misi, memata-matai pasukan musuh dibawah pimpinan Abu Sufyan. Dan sekalipun dia memiliki kesempatan untuk membunuh Abu Sufyan malam itu, dia tetap teguh pada perintah: perhatikan dan laporkan. Titik. Apollo dalam mitologi Yunani adalah utusan yang sigap dan selalu menyampaikan pesan secara kilat, literally. Apollo adalah utusan para Dewa dan menyampaikan pesan dengan keunggulan sayap pada mata kakinya. Sayap inilah yang melesatkan Apollo dalam setiap misinya. Pheidippides adalah utusan yang gigih dan menjadi teladan dalam semangat. Pheidippides menyampaikan berita kemenangan Athena dalam peperangan di Marathon melawan Persia dengan berlari sejauh 26 mil (itu kira-kira empat puluh koma seratus sembilan puluh lima kilometer) tanpa henti dan mati kelelahan pada akhirnya, tepat setelah pesan tersampaikan. Dan sekarang kita jadi tau dari mana sejarah lari Marathon berasal.
20 Januari 2008. Dini hari entah jam berapa.
Kabut, kabut, dan kabut. Gak ada yang lain. Tidak kecuali sekelebat siluet pepohonan dan bulan pucat. Gw adalah orang pertama yang dilepas untuk menyampaikan pesan rahasia kepada orang yang tepat, orang yang akan merespon kode berlapis yang gw lontarkan dengan benar. Gw adalah Hudzaifah. Gw adalah Apollo. Gw adalah Pheidippides. Gwlah Caraka, Sang Utusan.
Sebelumnya, instruktur mengarahkan gw untuk berjalan ke arah sungai. “Mas Agung akan memberi petunjuk berikutnya”, katanya. Begitu gw menghampiri beliau, gw langsung ditarik dan dirampas senternya.. “Ayo ikut!”, perintahnya.. “sana, mandi besar!”. “What!” Kata gw dalem hati, “ngapain juga gw kudu mandi besar! Tau apa dia?!”. Tapi tentu aja gw gak bakalan sempet protes karena pas baru aja gw mulai membasuh tangan kanan gw beliau langsung narik leher gw dan.. Byur! Gw diceburin.. kepala gw diteken biar masuk semua ke air.. “Dasar KORSAD!”, gw makin ngebatin. Trus ibarat teh celup, abis itu gw diangkat dan disuruh jalan ngikutin tali-tali rafia yang udah diiketin sepanjang jalan setapak di tengah hutan pohon kayu putih. Ditengah kabut, kabut, dan kabut. Gak ada yang lain. Tidak kecuali sekelebat siluet pepohonan dan bulan pucat yang sekarang mulai ketutup awan.
Dua hari… satu malam… kita bersembunyi… di tengah-tengah hutan…
Dua hari… satu malam… isi hutan… yang kita makan…
Dibekali… korek dan garam…
Mulai gak menyenangkan nih. Tadi sempet ketemu ama panitia-panitia yang nodong beberapa pertanyaan remeh.. tentu aja gw jawab. Tapi belakangan gw baru ngerti kalo itu-memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka, panitia yang berperan sebagai nobody-sama sekali bukan tindakan yang dibenarkan dalam misi ini. Kesel juga, kenapa gw bisa sebodoh itu ya? Gw udah gagal jadi Hudzaifah. Sebagai imbalan atas jawaban gw, mereka masing-masing minta satu tali rafia yang diamanahin ke gw di awal tadi. Ternyata order untuk memberikan tali rafia kepada orang yang meminta sama juga artinya dengan bunuh diri. Karena mereka diarahkan untuk minta tali rafia hanya jika kita memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Dan memberikan tali rafia kepada mereka-yang awalnya gw duga sebagai tindakan yang amanah dan layak dibanggakan-sama aja dengan memproklamirkan diri “Hey, gw gak bisa jaga amniyah (keamanan) lho!” atau “woy, gw tuh polos banget tau. Pantes aja CIA gak ngerekrut gw”. It was simply S-T-U-P-I-D. don’t try this at home.
Keadaan gak jadi lebih menyenangkan pas gw mendapati diri gw udah berdiri di pertigaan di ujung jalan setapak, berhadapan ama sungai, dan tanpa petunjuk tali rafia sama sekali. Gw sampe balik lagi ke tali rafia terakhir yang diiket di salah satu pohon. Dari sana gw ngarahin senter ke segala penjuru, berharap bisa nemuin tali rafia berikutnya. Tapi nihil. Oh God. Gak lucu banget kalo gw harus nunggu terang disini. Akhirnya gw coba jalan ke kanan 50 meteran.. gak ada rafia.. gw balik lagi ke pertigaan dan dipertigaan itulah untuk pertama kalinya dalam hidup, gw gak keberatan kalo kudu ketemu ama pengamen ato waria disana.. tapi mungkin gak juga sih. Gw tarik lagi kata-kata gw, sebab kalo bener-bener ada pengamen ato waria di tengah hutan gitu gw pasti bakal langsung lari balik ke Mas KORSAD dan memilih untuk diceburin lagi ke kali.
Pas kondisi gw mulai mendekati apatis, secara gak sengaja, dengan seberkas terang dari senter gw, samar-samar gw ngeliat ada pulau kecil di sungai di depan gw.. and guess what? Ada makhluk yang lagi duduk membelakangi gw diatasnya! Gila. Ini aneh banget. Pelan-pelan gw deketin aja tuh makhluk… perasaan tadi gw udah mondar-mandir disini tapi gak liat apa-apa.. ghoib bener dah. Tuh makhluk dililit kain coklat.. kain coklat yang berlumuran darah… eh kagak ding.. tapi bertuliskan Pandu Keadilan! Fiuh…
Langsung aja gw deketin tuh Kepanduan dan gw todong tanpa ragu, “Tiga!”. Trus dia jawab, “Tujuh!”. Hehe.. boleh juga.. tadi emang pak instruktur pesen bahwa orang yang tepat itu adalah orang yang bisa menggenapkan angka yang kita ajukan, dibawah bilangan sepuluh, jadi sepuluh bulat. Hmm.. dia udah lolos kode pertama.. tinggal jurus berikutnya nih.. bismillah.. “Onta merah!”.. dan dia langsung nimpalin, “Tunggangan para mujahid!”.. wahwah.. gw seneng banget.. gw tiba-tiba keinget film Valiant dan dengan gaya yang keren gw tiru aja quotenya Gutsy di film itu, “I have a message to deliver” (tapi pake bahasa indonesia tentu aja).
“Kami pandu sejati , Berjanji pada diri
Akan senantiasa mengiringi barisan dakwah ini, Dengan bersiapsiaga”
Setelah makhluk itu nerima pesan dari gw, beliau langsung mempersilakan gw untuk ngambil Ghonimah yang udah diiket diatas pohon.. satu hal yang tampak agak-agak tidak intelek untuk dilakukan di tengah malam: Manjat pohon. Tapi semuanya bener-bener setimpal dengan apa yang gw dapet. Gw dapet juga tuh slayer oren.. juga semua pelajaran penting yang tersirat didalemnya.. kedewasaan, kekuatan, kematangan, kepercayaan, kedisplinan, juga pengorbanan.
Kabut mulai menyingkir tapi bulan masih pucat. Sekarang tinggal satu misi terakhir yang kudu diselesaiin, charge terakhir sebelum longmarch besok pagi: sholat malam.
Langkah-langkahnya gagah perkasa
Seirama dan satu suara
Sambil bernasyid tanpa hura-hura
Itulah kami Pandu Keadilan
Ayun kakimu kiri dan kanan
Atur langkahmu jaga kerapian
Jangan sampai merusak barisan
Banjar dan shofnya harus diluruskan
PS: thx bwt teammate gw, Zoel, Jaya, Defri & Eko (di alam kita saling ta’aruf beratapkan bintang yang kita sama-sama gak tau apa namanya. Di tenda kita tidur beralas & beratapkan baliho Budiyanto). Juga bwt mas2 kepanduan yang asli, Pak Aris, Pak Arif jenaka, & Pak Harmin yang hobinya mukhoyyam dan menghangatkan suasana (baca: push up). Juga Pak Agung KORSAD, liat aja, saya juga bakal jadi KORSAD! Juga bwt makhluk dipulau kecil, Bang Ben (pesennya apa ya? Pesen nasi goreng ijo aja dah, satu)




The Beauty of Life

10 01 2008

Sore hari di pinggir selokan mataram. Beberapa hari silam gw membelah jalan dengan kecepatan… berapa ya? Entah gw gak liat ato emang speedometernya rusak. Mungkin karena gak liat aja. Karena seinget gw sore itu gw malah ngeliatin langit yang-kalo kata pujangga sih-menghampar luas bak permadani… gw gak inget kapan terakhir kalinya gw bener-bener merhatiin langit sperti saat itu… sore itu awan tidak tampak seperti kapas. Mereka saling menjalin diri memanjang dari selatan ke utara. Dengan sedikit imajinasi, kita akan melihat mereka seperti barisan anak kecil saling berpegangan tangan seperti di logo-logo persahabatan yang-entah mengapa-selalu terdiri dari anak-anak yang kontras perbedaan rasnya. Warna-warni. Tidak random dan ditambah senyum yang lebar. Tapi awan sore itu tidak warna-warni. Mereka hanya putih saja.

Hmm.. tapi kayaknya gw salah. Awan itu tidak seperti barisan anak kecil. Mereka lebih mirip ombak pantai selatan dengan gerakan yang diperlambat. Ya, mereka seperti ombak selatan dengan gerakan yang diperlambat. Entah sampai mana dan kapan akan berhenti berkejaran sebelum akhirnya menghempas karang atau membelai pantai dan luruh menjadi buih.

Jarum detik jam dinding seperti gak capek-capeknya.. tik… tik… tik… tik… tik… tik…

Sekarang malah kedengeran bunyi jangkrik yang me.. me-apa ya? Kambing mengembik, kuda meringkik, anjing menggonggong, kucing mengeong, jangkrik? Apa masalah ini udah pernah dibahas di simposium perkosakataan nasional? Kalo gitu gw tetapkan aja sekarang. Jangkrik mengkrik.

Dan masih banyak banget detil yang selama ini seakan terlewatkan dalam hari-hari gw. Jadi bersyukur aja masih bisa sedikit memikirkan. Memikirkan untuk bersyukur. Muter-muter aja terus.

Langit terbuka luas. Mengapa tidak pikiranku. Pikiranmu?

langkah kaki bergerak berbungalah walaupun nanti
bernyanyilah suatu saat kita akan berjumpa

satu dari semua yang mungkin dapat berjalan kembali
saatnya, saatnya…

terbang, tanpa arah
teruskan kembali nafas kita

tak akan mungkin angin ramah memanggil
mungkin kita akan belari
terbang…

terbang, tanpa arah
teruskan kembali nafas kita

(Pure Saturday)





Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif

17 12 2007

“Waktu sudah terlalu tinggi, jangan bermain-main dengan bangsa ini”

diucapkan dalam Tausyiah politik di Deklarasi Nasional Partai Matahari Bangsa @ JEC





bukan demokrasi2

12 12 2007

“ok, kita voting”, kata salah satu crew kapal

dan disinilah hal menarik berlangsung.

kapten kapal lantas berkomentar, “ini bukan demokrasi. kita adalah sekumpulan astronot dan ilmuwan”, lalu lanjutnya “kita dengar apa pendapat Capa, dia yang ahli tentang pelepasan bom di kapal kita”.

wow. begitu komentar gw.. mantap. ini dia orang2 cerdas.
bagaimana mungkin kita memasrahkan permasalahan krusial semacam itu pada suara2 semua orang yang dipatok sama dalam kapasitas mereka yang berbeda-beda?





wisuda, so what?

21 11 2007

toga.jpg

pagi kemarin UGM menyandangkan gelar Sarjana ke 1404 mahasiswanya.. rata2 kelulusan 4 taun 6 bulan.. ada yang paling muda lulusnya umur 20 taun 7 bulan 13 hari!

yang masih selalu jadi pertanyaan: apa kira2 yang kontan langsung muncul di benak lulusan UGM selain ‘makan2nya kapan’?

apakah ‘ngelamar kerja dimana ya?’, ato ‘nganggur deh’, ato ‘akhirnya bisa nikah juga’, ato ‘it’s time to make opportunities!’ memenuhi wejangan Pak Djar, “Saya berharap para lulusan bisa memberi usul-usul perbaikan dan pada saatnya memimpin nanti untuk tetap memberikan perbaikan-perbaikan sebagaimana yang saudara kehendaki. Universitas Gadjah Mada benar-benar memiliki harapan dan kepercayaan yang besar kepada saudara, bulan ini UGM telah makin meningkatkan berbagai program dukungan kepada alumni agar lebih lancar memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa”