Ummu Ina
22 01 2008Comments : Leave a Comment »
Categories : orbituary
bu Iin
20 01 2008innalillah.. istrinya DR. Hidayat dirawat di Jogjakarta International Hospital (di Jogja tentu aja).. Stroke.
Istri Hidayat Nurwahid Terserang Stroke
Stroke, Pembuluh Darah Istri Hidayat Tidak Pecah
Syafakillah.. Tabah ya, Pak
Comments : Leave a Comment »
Categories : disaster
Ujian
13 01 2008ujian dateng bertubi-tubi
dapatkah bertahan?
tergantung apa yang jadi pegangan tentunya
Cang Ato, gimana kabarmu?
daku bingung musti berdoa apa untukmu
tapi katanya, orang yang percaya pasti diuji
Comments : Leave a Comment »
Categories : M-TOP news
The Beauty of Life
10 01 2008Sore hari di pinggir selokan mataram. Beberapa hari silam gw membelah jalan dengan kecepatan… berapa ya? Entah gw gak liat ato emang speedometernya rusak. Mungkin karena gak liat aja. Karena seinget gw sore itu gw malah ngeliatin langit yang-kalo kata pujangga sih-menghampar luas bak permadani… gw gak inget kapan terakhir kalinya gw bener-bener merhatiin langit sperti saat itu… sore itu awan tidak tampak seperti kapas. Mereka saling menjalin diri memanjang dari selatan ke utara. Dengan sedikit imajinasi, kita akan melihat mereka seperti barisan anak kecil saling berpegangan tangan seperti di logo-logo persahabatan yang-entah mengapa-selalu terdiri dari anak-anak yang kontras perbedaan rasnya. Warna-warni. Tidak random dan ditambah senyum yang lebar. Tapi awan sore itu tidak warna-warni. Mereka hanya putih saja.
Hmm.. tapi kayaknya gw salah. Awan itu tidak seperti barisan anak kecil. Mereka lebih mirip ombak pantai selatan dengan gerakan yang diperlambat. Ya, mereka seperti ombak selatan dengan gerakan yang diperlambat. Entah sampai mana dan kapan akan berhenti berkejaran sebelum akhirnya menghempas karang atau membelai pantai dan luruh menjadi buih.
Jarum detik jam dinding seperti gak capek-capeknya.. tik… tik… tik… tik… tik… tik…
Sekarang malah kedengeran bunyi jangkrik yang me.. me-apa ya? Kambing mengembik, kuda meringkik, anjing menggonggong, kucing mengeong, jangkrik? Apa masalah ini udah pernah dibahas di simposium perkosakataan nasional? Kalo gitu gw tetapkan aja sekarang. Jangkrik mengkrik.
Dan masih banyak banget detil yang selama ini seakan terlewatkan dalam hari-hari gw. Jadi bersyukur aja masih bisa sedikit memikirkan. Memikirkan untuk bersyukur. Muter-muter aja terus.
Langit terbuka luas. Mengapa tidak pikiranku. Pikiranmu?
langkah kaki bergerak berbungalah walaupun nanti
bernyanyilah suatu saat kita akan berjumpa
satu dari semua yang mungkin dapat berjalan kembali
saatnya, saatnya…
terbang, tanpa arah
teruskan kembali nafas kita
tak akan mungkin angin ramah memanggil
mungkin kita akan belari
terbang…
terbang, tanpa arah
teruskan kembali nafas kita
(Pure Saturday)
Comments : Leave a Comment »
Categories : musics, quotes, surrounding
Fotografi
9 01 2008Fotografi berarti mengurung sejarah manusia dalam selembar foto. Selembar foto akan menceritakan satu fragmen dalam hidup manusia dalam satu waktu dari satu sudut dan dari satu jarak. Secara lebih tepatnya, selembar foto akan menceritakan hanya satu fragmen dalam hidup manusia (satu slice kejadian) dalam hanya satu waktu (cobalah untuk membagi satu detik hingga menjadi bagian yang tidak terbagi lagi, itulah yang gw maksud dengan waktu) dari hanya satu sudut (bayangkan bentuk 3D bola disekeliling manusia dan tunjuk ke satu titik secara sembarang. That’s it) dan dari hanya satu jarak (dari skala 1:1 sampai 1:entahlah, pilih saja). Clear enough?
Manusia senang melihat foto dari masa lalunya (tentu saja dari masa lalu. Gw gak pernah tau ada foto dari masa depan selain di Doraemon, Back to the Future, ato Early Edition). Ini menarik. Pertama, karena mereka sendirilah yang mengalami apa yang ia lihat di lembar foto itu. Kedua, karena sensasi yang mereka rasakan adalah apa yang mereka rasakan saat ini tentang saat itu. Mereka tidak benar-benar merasakan apa yang mereka rasakan saat itu. Ketiga, karena ternyata upaya manusia seperti tidak ada habisnya untuk membuat perangkap fragmen hidup yang lebih mutakhir dari waktu ke waktu.
Pada abad 19 hanya ada sedikit orang yang mengklaim dirinya sebagai fotografer. Fotografi adalah kebutuhan yang gak masuk dalam urutan primer-sekuder-tersier. Itupun kalo fotografi dianggap sebagai satu kebutuhan. Tapi lihatlah, sekarang semua orang adalah fotografer. Dengan pocket camera mereka, SLR manual, SLR digital, Polaroid, kamera HP, PDA, dan macam lainnya.
Gw pribadi memiliki bergiga-giga byte foto digital dan mungkin ratusan foto fisik sampai sekarang. Dan jika itu adalah hutan niscaya udah cukup untuk membuat orang tersesat didalamnya. Ya, gw berhasil membuat beberapa fragmen hidup gw terperangkap dalam lembaran foto. Gw Cuma gak bisa bayangin berapa kapasitas yang dibutuhkan untuk menjebak sejarah hidup gw seutuhnya dalam satu wadah. Perangkap sebesar apa? Itu baru gw. Gimana dengan ide menjebak sejarah hidup semua manusia secara utuh? Wow. Mungkin pekerjaan itu bakal setua dan seambisius peradaban itu sendiri.
Ok. Akan lebih amazing lagi kalo kita mempertanyakannya seperti ini: Kapasitas sebesar apa yang dibutuhkan untuk menjebak sejarah hidup semua manusia secara utuh dalam setiap fragmennya, dalam setiap waktu, dari setiap sudut, dan dari setiap jarak?
Well, thanks to Raqib and Atid yang telah, sedang, dan akan terus mencatat semuanya dengan sangat baik. Tentu akan menjadi koleksi yang luar biasa.
Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar!
Comments : Leave a Comment »
Categories : ideAs
Didi
6 01 2008ada beberapa nama yang selalu melekat kuat dalam benak manusia. begitu kuatnya hingga ketika manusia mau berkehendak melepaskannya akan menjadi sangat kesulitan. karena mereka seperti telah mengambil alih bayangan tubuh manusia yang memantul. manusia tidak bisa lari dari bayangannya sendiri, bisakah mereka? nama-nama itu adalah nama-nama yang mereka cinta-i atau benci-i (i got a problem here. any idea gimana bentuk bakunya? would u tell me?). nama-nama orang yang mereka cintai atau bencii menjadi lekat karena peran dalam hidupnya sebelum saat ini. beberapa dari mereka sering tampil dalam beberapa episode pembukaan, tengah, atau akhir. beberapa yang lain hanya dalam satu-dua episode yang penting saja. tapi mereka tetap mengambil peran, karena menurut kesadaran mereka, mustahil menjadikan kita seperti sekarang jika saat itu mereka bolos tampil atau mundur.
beberapa batu harus berdiri tegar agar air bisa belok ke arah yang seharusnya. beberapa yang lain harus berperan hancur atas arus untuk air yang keras maunya. begitu seterusnya.
ada beberapa Didi dalam hidup gw. Didi yang pertama hadir sebagai sebotol shampo. mereka menulisnya Dee-dee. Didi ini senantiasa membersihkan rambut gw yang hitam dan menjadikannya tidak kaku-kaku amat. Didi yang lain tampil sebagai adik kelas yang pendiam dan banyak jadi bahan ledekan seisi kelas. beliau ada disana, dalam beberapa fragmen hidup gw, banyak mengajarkan tentang sabar dan tersenyum. lembut dalam hampir segala situasi. subhanallah.
And now i’m writing about this man, Didi. He simply was not just another Didi. He was different. he surely was somebody. Didi yang ini praktis hanya muncul seperti sebagai figuran dalam skenario hidup gw (tapi dalam skenario hidupnya, tentu ia adalah bintang dan gwlah figuran) adalah karena Didi yang ini memang dimaksudkan seperti itu. Didi ini berperan sebagai seorang guru. figuran yang amat penting. Didi ini tampil dengan script yang minimalis. bahasanya adalah matanya. adalah gesturnya. juga langkahnya. dialognya sedikit tapi mengarahkan dan kadang menentukan tindakan si Aktor. Didi ini memainkan perannya dengan sangat baik dan penuh penjiwaan.
perlu gw tekankan juga bahwa ada hal-hal yang yang harus ada dalam setiap skenario. dan salah satu yang terpenting adalah sebuah akhir. ketika kita memilih hidup maka kita juga memilih mati. aktor yang dihidupkan, sebaik apapun dia berperan, kelak harus mati juga. saat itu perannya adalah mati. karena dia harus menjalankan lagi peran yang lebih besar dalam skenario yang lebih besar. semacam skenario yang abadi. bingung membayangkan keabadian? tampaknya peran kita sekarang memang untuk bingung. yah, semoga kelak kita akan paham.
Untuk Didi yang terakhir gw ceritakan, Didi yang akan memainkan peran yang baru. gw hanya mendoakan semoga kali ini tidak kalah suksesnya. dan gw cuma mau bilang terimakasih karena bahkan di ujung peran figurannya masih banyak mengajarkan gw tentang hal-hal yang luar biasa. kemanapun kau menatap sekarang, kau sudah demikian dekat dengan The ScriptMaster. don’t you miss Him? berbahagialah.
gw akan disini dulu untuk menjalankan bagian gw sebaik-baiknya.
wish me luck, no, i mean barokah.
>
in memoriam: Pak Didi guru Fisika SMU 14 Jakarta dengan semua izzahnya.
Comments : 2 Comments »
Categories : orbituary
least we can do
5 01 2008yo3x.. they’re waiting for us…
malem2 kedatengan hafid yg langsung nyodorin kertas2 & cet poster.
nampaknya inilah paling tidak yang bisa kita lakukan.. sebelum masa depan bumi benar2 terjual ke tangan mereka yang merusak
This is the next century
Where the universal’s free
You can find it anywhere
Yes, the future’s been sold
Every night we’re gone
And to karaoke songs
How we like to sing along
’though the words are wrong
It really, really, really could happen
Yes, it really, really, really could happen
When the days they seem to fall through you
Well, just let them go
No-one here is alone
Satellite’s in every home
Yes, the universal’s here
Here for everyone
Every paper that you read
Says tomorrow’s your lucky day
Well, here’s your lucky day
It really, really, really could happen
Yes, it really, really, really could happen
If the days they seem to fall through you
Well, just let them go
(the universal, Blur)
Comments : Leave a Comment »
Categories : M-TOP news, disaster, musics, surrounding
Oh God
31 12 2007ok. i’m not exactly know what normal people write on the early day of a newyear. but for me, it goes like this, Bismillahirrahmanirrahim.. wal ‘ashr..
Comments : Leave a Comment »
Categories : surrounding
















Recent Comments